Pegunungan Meratus yang membentang di Kalimantan Selatan tidak bisa di pungkiri keberadaannya semakin kritis. Lebatnya hutan yang dulu belum terjamah kini kondisinya masih terus memprihatinkan, meski laju pengrusakan tidak separah beberapa tahun silam, namun tetap saja hutan-hutan di kawasan ini semakin terdesak oleh berbagai aktifitas konversi hutan baik penebagangan liar, perkebunan maupaun pertambangan. Keadaan ini tentunya berdampak langsung terhadap keberadaan anggrek spesies dimana sebagian besar anggrek spesies di Indonesia khususnya di Kalimantan Selatan adalah jenis anggrek spesies epifit yang hidup menumpang atau menempel pada pepohonan di dalam hutan.
Hasil temuan Tim Observasi PAI Kalsel sering menemukan dalam satu pohon terdapat beberapa jenis anggrek, dengan kata lain satu pohon bisa menjadi habitat bermacam-macam anggrek dari genus yang sama atau yang berbeda. Bisa dibayangkan jika jutaan hektar hutan ditebang berapa anggrek spesies yang kehilangan habitatnya, belum lagi rebahan pohon tebangan tidak tahu berapa banyak yang menimpa anggrek-anggrek teresterial yang berada di sekitar pohon tersebut.
Kenyataan ini semakin menggerak tim observasi PAI Kalsel untuk terus mendata anggrek-anggrek yang berada di hutan-hutan di wilayah Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Berkesempatan ikut dalam tim observasi bersama teman-teman dari Unlam membuat wawasan dan pengetahuan saya bertambah. Tidak hanya bisa bertukar informasi dengan sesama pecinta anggrek, tetapi juga bisa mendapatkan pengetahuan lebih seputar anggrek dari senior di PAI serta pengetahuan tentang hutan dari Ka. Balitbang Kehutanan RI .
Dari hasil Observasi sedikitnya di temukan 11 Jenis Anggrek sepesies yang di temukan di salah satu kawasan Pegunungan Meratus Kab. Pelaihari antara lain dari jenis Eria, Bulbophyllum, Dendrobium, Coelogyne, dll.

